Mohon tunggu, kami sedang memproses pembayaran Anda.
Mohon untuk tidak menutup atau melakukan reload halaman ini.
Terima Kasih.
Amerika Serikat
- Data pekerjaan untuk bulan November telah dirilis, Nonfarm payroll meningkat sebesar 227.000 di bulan November, dibandingkan dengan kenaikan 36.000 di bulan Oktober. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,2% di bulan November, naik dari 4,1% di bulan Oktober.
- Data inflasi untuk bulan November akan dirilis minggu ini. Pasar memperkirakan inflasi akan naik 2,7% yoy dan 0,2% mom di bulan November, dibandingkan 2,6% yoy dan 0,2% mom di bulan Oktober.
Indonesia
- Data inflasi untuk bulan November telah dirilis, menunjukkan peningkatan sebesar 1,55% yoy dan 0,3% mom, dibandingkan dengan 1,71% yoy dan 0,08% mom di bulan Oktober.
- Cadangan devisa di bulan November tercatat sebesar US$ 150.2 milliar, turun dari US$ 151.2 milliar di bulan Oktober.
- Kepercayaan konsumen bulan November, diperkirakan 121, dibandingkan dengan 121.1 di bulan Oktober. Selama kepercayaan konsumen masih berada di atas 100, maka mengindikasikan bahwa konsumen masih optimis terhadap kegiatan konsumsi di masa mendatang.
- Penjualan ritel bulan Oktober, diperkirakan naik 4.5% yoy, dibandingkan dengan kenaikan 4.8% yoy di bulan September.
Indeks Harga Saham Gabungan naik 3,77% secara mingguan ke level 7.382,79. IHSG diperkirakan akan mencatatkan lintasan positif di minggu ini, karena telah berada dalam fase tren turun selama lebih dari empat minggu. Data inflasi dari AS dapat menjadi katalis bagi pasar; jika dilaporkan menurun, hal ini dapat meningkatkan optimisme bahwa the Fed dapat menurunkan suku bunga di bulan Desember. Dari dalam negeri, data konsumen seperti pertumbuhan penjualan ritel dan kepercayaan konsumen akan dirilis minggu ini. Selama indikator-indikator ini menunjukkan perbaikan, mereka akan meningkatkan optimisme pasar, menegaskan kembali bahwa ekonomi Indonesia tetap berada di jalur yang positif secara fundamental. Investor asing mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp1,07 triliun selama sepekan terakhir, membawa arus masuk tahun berjalan (year-to-date/YTD) menjadi Rp22,63 triliun). Tiga sektor dengan return tertinggi adalah Energi, Infrastruktur, dan Teknologi yang masing-masing meningkat sebesar 4,54%, 4,30%, dan 4,13% secara mingguan.
Pada tanggal 6 Desember 2024, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 5 tahun (FR0101) naik menjadi 6,83%, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun (FR0100) stabil di level 6,89%. Demikian pula, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 15 tahun (FR0098) tetap stabil di 7,03%, dan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 20 tahun (FR0097) tidak berubah di 7,08%.
Imbal hasil obligasi INDON bertenor 10 tahun (INDON 34) tetap datar di level 5,02%, sementara imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun juga tidak berubah di level 4,15% dibandingkan dengan posisi 29 November 2024 yang masing-masing sebesar 5,07% dan 4,17%. Premi risiko Indonesia, yang tercermin dari CDS 5 tahun, turun menjadi 72,1 bps. Rupiah bergerak flat, terapresiasi sebesar 0.02% ke level IDR 15,845.
Kepemilikan asing di pasar Surat Utang Negara (SUN) per 5 Desember 2024 tercatat sebesar IDR 874,39 triliun (14,55% dari total outstanding), meningkat dibandingkan dengan posisi 29 November 2024 yang tercatat sebesar IDR 872,50 triliun (14,53% dari total outstanding)
The Fed menerapkan kebijakan moneter yang ekspansif di tahun 2024 dengan menurunkan suku bunga acuan secara year to date sebesar 75 bps. AS masih berada di jalur yang tepat untuk melakukan soft landing, dimana ekonomi diperkirakan tumbuh 2,1% YoY di tahun 2024, dan 2% YoY di tahun 2025. Bank Indonesia juga diperkirakan akan menerapkan kebijakan moneter yang ekspansif pada tahun 2024, yang akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pasar obligasi diperkirakan akan merespon positif pada awalnya karena membaiknya kondisi makroekonomi, yang kemudian akan diikuti oleh kinerja positif pada IHSG.