Artikel
Neraca Perdagangan dan Pertumbuhan Kredit di bulan Januari: Katalis Potensial untuk Pasar Modal Indonesia
Berita Utama | 18-Feb-2025 11:44:27 - by admincontent2
United States
  • Inflasi di bulan Januari naik sedikit di atas ekspektasi, tumbuh 3.0% YoY dibandingkan 2.9% YoY di bulan Desember. Secara bulanan, inflasi meningkat 0,5% MoM, naik dari 0,4% MoM di bulan Desember.
  • Penjualan ritel di bulan Januari turun 0.9% MoM, membalikkan kenaikan 0.7% MoM di bulan Desember. Pelemahan di bulan Januari menunjukkan bahwa ekonomi AS mungkin berada dalam fase penurunan.
  • Notulen FOMC dari pertemuan Januari akan dirilis minggu ini. Hasilnya diperkirakan akan sejalan dengan pernyataan sebelumnya, karena the Fed tidak akan terburu-buru dalam memangkas suku bunga, dan masih sangat bergantung pada data ekonomi.

Indonesia
  • Kepercayaan konsumen di bulan Januari tetap berada dalam fase optimis, mencatat 127,2, sedikit lebih rendah dari 127,7 di bulan Desember.
  • Penjualan mobil di bulan Januari terus menunjukkan pelemahan, turun 11,3% YoY, dibandingkan dengan penurunan 6,4% YoY di bulan Desember.
  • Penjualan ritel di bulan Desember sedikit membaik, tumbuh 1,8% YoY, meningkat dari pertumbuhan 0,9% YoY di bulan November.
  • Neraca Perdagangan untuk bulan Januari akan dirilis minggu ini. Diperkirakan akan mencatat surplus sebesar US$ 1,91 miliar, turun dari surplus US$ 2,24 miliar di bulan Desember.
  • Pertumbuhan kredit di bulan Januari diperkirakan mencapai 10,5% YoY, sedikit lebih tinggi dari 10,39% YoY di bulan Desember.
  • Bank Indonesia akan mengadakan pertemuan untuk menentukan suku bunga acuan. Pasar memperkirakan tidak ada penurunan suku bunga, dengan suku bunga acuan kemungkinan akan tetap di 5,75%.
  • Neraca transaksi berjalan di kuartal IV: Defisit diperkirakan akan menyempit menjadi -0.6 miliar dollar AS, dibandingkan dengan -2.2 miliar dollar AS di kuartal III.
  • Jumlah uang beredar M2 untuk bulan Januari: Di bulan Desember, jumlah uang beredar M2 tumbuh 4,4% YoY.
Market View
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,54% minggu ke minggu, ditutup pada 6,638.46. Namun, minggu ini diperkirakan akan berada di wilayah positif, seiring dengan antisipasi beberapa rilis data penting domestik, termasuk pertumbuhan kredit untuk bulan Januari, yang diperkirakan akan mencatat pertumbuhan dua digit YoY, dan jumlah uang beredar M2 untuk bulan Januari. Jika uang beredar M2 terus menunjukkan pertumbuhan positif, hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas konsumen tetap kuat. Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp3,00 triliun selama sepekan terakhir, sehingga secara year-to-date (YTD) arus keluar mencapai Rp10,51 triliun. 

Tiga sektor dengan performa terlemah adalah energi, infrastruktur, dan transportasi & logistik, yang masing-masing turun sebesar 3,57%, 3,45%, dan 2,22% secara mingguan.

Pada tanggal 14 Februari 2025, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 5 tahun (FR0104) turun menjadi 6,55%. Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun (FR0103) juga turun menjadi 6,75%. Demikian pula dengan imbal hasil obligasi acuan 15 tahun (FR0106) yang turun menjadi 6,97%, sedangkan imbal hasil obligasi acuan 20 tahun (FR0107) turun menjadi 6,99%.

Sementara itu, imbal hasil obligasi INDON bertenor 10 tahun (INDON 35) naik menjadi 5,36%, sedangkan imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun tetap datar di 4,48%, dibandingkan dengan level pada 7 Februari 2025 yang masing-masing sebesar 5,26% dan 4,49%. Premi risiko Indonesia, yang tercermin dari CDS 5 tahun, turun menjadi 70,87 bps. Selain itu, rupiah terapresiasi sebesar 0,19% secara mingguan, ditutup pada Rp16.255.

Per 11 Februari 2025, kepemilikan asing di pasar Surat Utang Negara (SUN) mencapai IDR 888,23 triliun (14,49% dari total obligasi yang beredar), tidak berubah dari IDR 888,36 triliun (14,49% dari total obligasi yang beredar) pada tanggal 7 Februari 2025. The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali, dengan total 50 basis poin, pada tahun 2025, menurunkan suku bunga acuan dengan total 100 basis poin secara year-to-date. 

Perekonomian AS tetap berada di jalur yang tepat untuk melakukan soft landing, dengan pertumbuhan diproyeksikan sebesar 2,5% year-on-year (YoY) pada tahun 2024 dan 2,1% YoY pada tahun 2025. Demikian pula, Bank Indonesia diperkirakan akan menerapkan kebijakan moneter ekspansif pada tahun 2025, yang diantisipasi akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Pasar obligasi kemungkinan akan merespon secara positif pada awalnya, didorong oleh membaiknya kondisi makroekonomi, diikuti oleh kinerja IHSG yang kuat. 

Market Data:

JCI

Indonesia IDR
10yr (%)

Indon
10 yr (%)

US Treasury
10yr (%)

USD/IDR

6,638

6,75

5,36

4,48

16.255


Economic Data:

Indonesia Trade Balance December (USD)

Indonesia Export December (% YoY)

Indonesia Import December (% YoY)

2,24 B

4,78

11,07