Artikel
Perkiraan Surplus Perdagangan Februari Berpotensi Membentuk Sentimen Pasar Pekan Ini
Berita Utama | 17-Mar-2025 10:38:22 - by admincontent2
United States
  • Inflasi Februari menunjukkan tren penurunan, naik 2,8% yoy dan 0,3% mom, lebih rendah dibandingkan Januari yang tumbuh 3% yoy dan 0,5% mom.
  • Data penjualan ritel untuk bulan Februari akan dirilis minggu ini dan diperkirakan akan tumbuh sebesar 0,6% MoM, menandai peningkatan yang signifikan setelah penurunan sebesar 0,9% MoM di bulan Januari.
  • The Fed akan mengadakan pertemuan pada pertemuan ini, dan pasar memprediksi bahwa The Fed akan mulai menurunkan suku bunga sekitar tanggal 25 Jun.
Euro
  • Para anggota parlemen Jerman telah setuju untuk mengubah peraturan utang yang ketat di negara tersebut, yang memungkinkan lebih banyak pengeluaran untuk pertahanan dan infrastruktur. Keputusan ini muncul ketika Eropa menghadapi masalah keamanan yang semakin meningkat dan bertujuan untuk memperkuat pertahanannya.

Indonesia

  • Kepercayaan konsumen di bulan Februari tetap berada dalam fase optimis, tercatat di atas level 100 di 126,4, meskipun sedikit lebih rendah dari bulan Januari di 127,2.
  • Neraca perdagangan bulan Februari akan dirilis minggu ini, dengan pasar memprediksi surplus perdagangan. Namun, surplus yang sebenarnya tercatat sebesar US$ 2.400 juta, turun dari US$ 3.428 juta di bulan Januari. Surplus yang lebih lemah kemungkinan disebabkan oleh kenaikan impor sebesar 1,35% YoY di bulan Februari.
  • Bank Indonesia (BI) akan mengadakan pertemuan minggu ini. Meskipun Februari memasuki fase deflasi, pasar memperkirakan tidak ada penurunan suku bunga, karena BI kemungkinan akan memprioritaskan stabilisasi nilai tukar USD/IDR.
Market View

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sebesar 1,81% secara mingguan, ditutup pada level 6.516. Secara global, sentimen pasar seharusnya positif, karena Cina mengambil langkah serius untuk mengatasi tantangan pertumbuhan ekonominya, dan Jerman memprioritaskan belanja pertahanan dan infrastruktur. Di dalam negeri, selain neraca perdagangan Februari yang masih surplus, bank-bank akan mengumumkan kebijakan dividen mereka minggu ini, yang dapat memberikan sentimen positif tambahan untuk IHSG. Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp3,69 triliun selama sepekan terakhir, sehingga secara year-to-date (YTD) arus keluar mencapai Rp26,04 triliun. Tiga sektor dengan performa terlemah adalah bahan dasar, kesehatan, dan properti & real estate, yang masing-masing turun sebesar -6.49%, -3.99%, dan -3.81% secara mingguan.

Pada tanggal 14 Maret 2025, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 5 tahun (FR0104) mendatar di level 6,69%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun (FR0103) meningkat menjadi 6,96%. Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 15 tahun (FR0106) tidak berubah di level 6,99%, dan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 20 tahun (FR0107) juga mendatar di level 7,04%.

Sementara itu, imbal hasil obligasi INDON bertenor 10 tahun (INDON 35) tetap stabil di level 5,21%, dan imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun bertahan di level 4,31%, dibandingkan dengan level pada tanggal 7 Maret 2025 yang masing-masing sebesar 5,17% dan 4,32%. Premi risiko Indonesia, yang tercermin dari CDS 5 tahun, meningkat menjadi 82,97 bps. Selain itu, rupiah melemah sebesar -0.34% secara bulanan, ditutup pada Rp16.346.

Per 13 Maret 2025, kepemilikan asing di pasar Surat Utang Negara (SUN) mencapai Rp 894,99 triliun (14,41% dari total beredar), turun dari Rp 897,99 triliun (14,44% dari total beredar) pada 7 Maret 2025.

The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali, dengan total 50 basis poin, pada tahun 2025, setelah menurunkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin pada tahun 2024. Perekonomian AS tetap berada di jalur yang tepat untuk melakukan soft landing, dengan pertumbuhan yang diproyeksikan sebesar 2,5% year-on-year (YoY) pada tahun 2024 dan 2,1% YoY pada tahun 2025. Demikian pula, Bank Indonesia diperkirakan akan menerapkan kebijakan moneter ekspansif pada tahun 2025, yang diantisipasi akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pasar obligasi kemungkinan akan merespon secara positif pada awalnya, didorong oleh membaiknya kondisi makroekonomi, diikuti oleh kinerja IHSG yang kuat.

Market Data:

JCI

Indonesia IDR
10yr (%)

Indon
10 yr (%)

US Treasury
10yr (%)

USD/IDR

6,516

6,96

5,21

4,31

16.346


Economic Data:

Indonesia Trade Balance January (USD)

Indonesia Export January (% YoY)

Indonesia Import January (% YoY)

3,45 B

4,68

-2,67