Mohon tunggu, kami sedang memproses pembayaran Anda.
Mohon untuk tidak menutup atau melakukan reload halaman ini.
Terima Kasih.
Pasar saham Indonesia mengalami koreksi yang cukup dalam ditutup -4% pada hari Selasa (18 Maret 2025). Dalam sesi perdagangan sesi pertama hari Selasa kemaren, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat men-suspense perdagangan (trading halt) bursa selama 30 menit pada jam 11.19 am ketika IHSG menyentuh circuit breaker koreksi -5%. Mekanisme trading halt ini bukanlah hal baru di dunia pasar modal. Banyak bursa saham di dunia juga menerapkan sistem serupa untuk mencegah kerugian besar akibat aksi jual yang tidak terkendali. Meskipun penghentian sementara perdagangan dapat menimbulkan kekhawatiran di awal, langkah ini membantu menciptakan kondisi pasar yang lebih stabil dan memberikan kesempatan bagi investor untuk membuat keputusan yang lebih rasional.
Dari sisi pemerintah pun, Ibu Sri Mulyani juga tampil saat Konferensi Pers Hasil Lelang SUN di Gedung Ditjen Pajak pada Selasa sore (18 Maret 2025) dan menegaskan bahwa beliau tidak mundur dan tetap bekerja fokus mengelola APBN. Dari sisi regulator, pada hari Rabu pagi sekitar jam 10 pagi, Otoritas jasa Keuangan (OJK) resmi memberlakukan ketentuan pembelian kembali saham (buyback) tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sesuai POJK 13/2023. OJK menjelaskan bahwa kebijakan tersebut dapat memberi sinyal positif bahwa perusahaan yang melalukan buyback adalah perusahaan yang memiliki fundamental yang solid dan bisa memberikan market confidence kepada para investor. Jadi, kami melihat bahwa pemerintah dan OJK tetap aktif mengawasi pergerakan pasar modal dan para investor pun meng-apresiasi informasi dan gerak cepat pemerintah dan OJK hari Selasa (18 Maret) dan Rabu (19 Maret).
Kami melihat faktor luar negeri (seperti gencarnya perang tarif, resiko geopolitik Israel-Hamas yang kembali memanas, meningkatnya kemungkinan resesi di Amerika Serikat) juga ikut mempengaruhi market confidence para investor di BEI. Dari sisi domestik, di samping efek dari efisiensi dan realokasi anggaran serta sikap wait-and-see para investor global untuk mengevaluasi kebijakan-kebijakan investasi yang akan dilancarkan Danantara, Kami memang melihat ada tanda-tanda pelemahan ekonomi domestik, terutama dari segmen masyarakat mid-low income yang bisa menyebabkan aktivitas ekonomi pada lebaran pada tahun 2025 mungkin tidak setinggi pada tahun 2024 lalu.
Namun, kami melihat bahwa pemerintah juga telah dan sedang bekerja keras untuk mendongrak pertumbuhan ekonomi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan program pembangunan Tiga Juta Rumah. Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perumahan Bapak Hashim Djojohadikusumo juga telah mengungkapkan ada dua negara, yaitu Qatar dan Uni Emirate Arab (UEA) yang siap membiayai program Tiga Juta Rumah tersebut. Pemerintah Qatar telah mengungkap kesediaannya untuk membangun 5 juta unit rumah dan UEA akan membangun 1 juta unit rumah. Keberhasilan program ini akan sangat membantu sektor konstruksi dan semen yang tentu mempunyai efek multiplier yang positif dalam beberapa tahun ke depan.
Jadi walaupun memang pemerintah perlu berkonsolidasi dalam menghadapi berbagai tantangan, kami tetap melihat Indonesia tidak dalam krisis finansial seperti era covid tahun 2020 lalu. Dengan telah ditegaskannya bahwa Ibu Sri Mulyani tetap bekerja fokus mengelola APBN dan OJK yang telah resmi memberlakukan ketentuan buyback saham tanpa RUPS sesuai POJK 13/2023, kami melihat kedua hal ini bisa menjadi booster bagi para investor di pasar modal Indonesia, baik pasar saham maupun obligasi. Kami mengharapkan pemerintah dan regulator OJK tetap secara pro-aktif menjelaskan kebijakan-kebijakan secara jelas dan berkesinambungan sehingga market confidence di pasar modal Indonesia tetap terjaga dengan sehat. Seiring waktu berjalan dan semakin banyaknya dan lancarnya komunikasi dari pemerintah dan OJK dengan para investor global dan domestik, market confidence ini bisa kembali tumbuh dan harga saham dari perusahan-perusahaan dengan fundamental yang baik akan kembali mencerminkan harga wajarnya.
Disclaimer:
Publikasi ini bukan merupakan suatu bentuk tawaran untuk menjual atau membeli efek atau derivatifnya yang termuat dalam publikasi ini. Isi dari publikasi ini bukan merupakan nasehat investasi kepada pihak manapun. Rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini belum tentu sesuai untuk setiap calon investor. Meskipun seluruh informasi yang termuat dalam publikasi ini diperoleh dari sumber yang kami percaya, namun kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Pendapat dan rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini berlaku terbatas pada tanggal pembuatan dan setiap saat dapat berubah dan diubah oleh PT BRI Manajemen Investasi (BRI-MI) tanpa pemberitahuan sebelumya. BRI-MI tidak berkewajiban memperbaharui atau menambahi informasi yang termuat dalam publikasi ini. Publikasi ini ditujukan sebagai informasi dan tidak bertujuan untuk membentuk suatu keputusan investasi. Investor harus menetapkan sendiri setiap karyawan dan afiliasinya tidak bertanggung jawab terhadap setiap keputusan investasi yang diambil oleh investor.